Minggu, 23 Agustus 2009

SEBENARNYA UNTUK APA KITA HIDUP?

Pernahkah kita merenung, sebenarnya untuk apa kita hidup? Untuk sebuah tujuan apa kita ada di muka bumi ini? Mengapa warna kulit kita diciptakan berbeda? Mengapa harus ada suku-suku yang berlainan? Intinya, mengapa harus ada perbedaan? Bukankah “kesamaan” itu jauh lebih baik, sehingga akan membuat kita tidak akan bertengkar selamanya?

Untuk tujuan apa sebenarnya kita, alam, manusia dan perbedaan-perbedaannya, diciptakan berdamping-dampingan dengan kita?

Mustahil kita diciptakan hanya agar kita bertambah umurnya setiap hari, sekolah, bekerja, berkeluarga, memiliki anak-cucu, lalu setelah itu selesai….

Pasti ada sebuah “tujuan” mengapa semua ini ada.

Tuhan yang menciptakan alam raya dan segala apa yang ada ini menjelaskan semuanya kepada kita:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka ber-IBADAH (menyembah-Ku).
[Angin yang menerbangkan (Adz Dzariyat): 56]

Bila ini adalah titik awalnya, bahwa Ia adalah Tuhan Pencipta Semesta yang telah menciptakan kita sehingga kita harus beribadah kepada-Nya, lalu untuk tujuan apa Tuhan menciptakan orang tua kita, karib kerabat kita, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga-tetangga, teman sejawat, orang yang dalam perjalanan, begitu juga hamba-hamba sahaya?

Tuhan yang menciptakan alam raya dan segala apa yang ada ini telah menjelaskan semuanya kepada kita:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan BERBUAT BAIKLAH kepada kedua ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnus sabil, dan hamba-hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah TIDAK MENYUKAI orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. [Wanita (An Nisaa’): 36]

Inilah yang diturunkan-Nya kepada kita, agar kita kepada mereka-mereka ini tetap bisa memperlakukannya dengan baik.

Kemudian terhadap segala yang ada di semesta raya ini, Tuhan yang menciptakannya, mengingatkan kita peristiwa di awal penciptaan:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.” Mereka berkata,”Mengapa Engkau hendak menjadikan seorang Khalifah di bumi itu orang yang AKAN MEMBUAT KERUSAKAN padanya dan MENUMPAHKAN DARAH, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Sapi Betina (Al Baqarah): 30]

Alam raya yang mungkin diciptakan sebelum kita, pepohonan, lautan yang luas, pegunungan yang biru, hutan-hutan yang hijau, lembah-lembah yang berkabut, sungai-sungai jernih yang mengalir bergemericik, ternyata tidak diperbolehkan oleh Tuhan Pencipta Semesta untuk kita rusak. Sedangkan nyawa-nyawa manusia, tidak diperbolehkan untuk kita tumpahkan darahnya dengan semena-mena.

Untuk tujuan inilah kita diciptakan.
Dan kita diciptakan tidak sendirian.
Berdampingan dengan kita ada alam raya dan sesama manusia yang diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Lalu siapakah sebenarnya Tuhan Pencipta Semesta itu?

SEGALA PUJI BAGI ALLAH, RABB (TUHAN) SEMESTA ALAM.
[Pembukaan (Al Fatihah): 2]

Dia telah mengenalkan Dirinya kepada kita. Dan Dialah Allah. Dengan Nama itu kita menyebut-Nya. Sebutlah:
Allah…Allah..Allah adalah Rabb-ku….tidak akan aku menyekutukan-Nya dengan apapun dan dengan siapapun…
[Allah…Allah…Allahu Rabbii….laa usyriku bihi syaian….]

oleh: Nur A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar