Minggu, 23 Agustus 2009
Yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan
“Hai pecinta kebaikan, bergembiralah!
Dan hai pecinta keburukan, hentikanlah!”
[dalam riwayat Ahmad dan Nasai]
Tidak berkata keji dan mencaci-maki.
Membaca Al Quran siang dan malam, semampu kita.
Shalat lima waktu dengan berjamaah.
Mengerjakan shalat tarawih dan witir.
I’tikaf dan mencari Lailatul Qadar, setidaknya pada sepertiga akhir Ramadhan.
Shalat Dhuha, antara jam 7 pagi sampai jam 11 siang, sebagai ungkapan syukur kita dan ibadah yang dapat membuka pintu-pintu rizki.
Ingat-ingatlah keburukan yang pernah kita lakukan, lalu perbanyak istighfar dan memohon ampun.
Kerjakan 2 rakaat sebelum Subuh, karena 2 rakaat ringan itu lebih baik dari dunia dan seisinya.
Dua rakaat sunnah sebelum Dzuhur dan 2 rakaat sesudahnya, sebuah inadah yang dilaksanakan tepat saat pintu langit dibuka.
Setelah shalat Maghrib, ada 2 rakaat sunnaah, bacalah Qul yaa ayyuhal kaafiruun di rakaat pertama dan Qul huwallahu ahad di rakaat kedua.
Dan masih ada 2 rakaat sesudah isya, cobalah membagi cahaya dari Allah dengan mengerjakannya di rumah, agar rumah kita ikut benderang.
Menghafal Al Quran itu jauh lebih baik, dari pada waktu luangmu masih banyak yang belum terisi.
Saatnya untuk mengeluarkan kebaikan yang ada pada dirimu, bantulang orang, ringankan beban, berbagilah dengan sesama, keluarkan sebagian rizki, masaklah makanan lalu kirimilah orang yang tidak punya apa-apa untuk berbuka, berkunjunglah kepada tetangga-tetangga karena itu adalah sunnah yang indah.
Pasanglah lampu agar jalan yang menuju masjid ataau mushala menjadi terang. Singkirkanlah bebatuan, ranting-ranting, pucuk-pucuk pohon, dari jalan-jalan itu agar orang yang akan pergi ke masjid atau mushala tidak terhalang-halangi.
Keluarkanlah zakat dengan perasaan penuh kebahagiaan sebelum puasa usai.
Dan bertakbirlah, agungkan Asma Allah ke seluruh negeri, penuhi langit alam raya dengan bahana takbir, di malam yang terang, saat bulan baru yang fithri datang menggantikan Ramadhan yang penuh berkah.
****
Khadimul Quran
(Pelayan-pelayan Al Quran)
Adalah nama sebuah lembaga yang dicetuskan oleh Ust. Hamim Thohari, B.IRK (Hons), untuk berkhidmat pada Al Quran, ikut menjaganya, membantu orang-orang agar bisa berinteraksi dengannya, dan menyerukan kembali dakwah Al Quran.
Quranic Enlightenment
(Pencerahan Qurani)
Adalah nama program yang digulirkan oleh Khadimul Quran, untuk menjalankan misi yang sama. Membantu orang untuk membaca Al Quran, Tahsin (program memperbaiki bacaan Al Quran), Tahfidz (program penghafalan Al Quran), Tafsir (program cara memahami Al Quran).
Anda bisa ikut berpartisipasi dalam program ini dengan mendonasikan apa yang anda mampu berikan. Anda bisa mengirimkan kepada kami buku-buku IQRA’, AL BARQI, dan buku-buku yang lain, Al Quran, CD/ DVD murattal, untuk kami sampaikan kepada orang atau lembaga yang berada dalam jangkauan kami, seperti keinginan anda. Kunjungi Facebook kami Khadimul Quran. Bergabunglah bersama grup kami Quranic Enlightenment.
Oleh : Nur A
APAKAH KERINDUAN UNTUK MEMBACA AL QURAN SIANG DAN MALAM MULAI TUMBUH DI HATI KITA?
Mereka suka sekali membaca Al Quran
121. Orang-orang yang Telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya[84], mereka itu beriman kepadanya. dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi.
[84] Maksudnya: tidak merobah dan mentakwilkan Al Kitab sekehendak hatinya.
101. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
113. Mereka itu tidak sama; di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus[221], mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).
[221] Yakni: golongan ahli Kitab yang Telah memeluk agama Islam.
204. Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat[591].
[591] Maksudnya: jika dibacakan Al Quran kita diwajibkan mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik dalam sembahyang maupun di luar sembahyang, terkecuali dalam shalat berjamaah ma'mum boleh membaca Al Faatihah sendiri waktu imam membaca ayat-ayat Al Quran.
2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
[594] Maksudnya: orang yang Sempurna imannya.
[595] dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.
31. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami, mereka berkata: "Sesungguhnya kami Telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menhendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) Ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala".
Saat akan membacanya, mereka meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk
98. Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.
45. Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup,
46. Dan kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang Karena bencinya,
orang-orang Ahli Kitab (the people of The Scripture) yang lurus, saat mereka membaca Al Quran, mereka tahu bahwa Al Quran itu benar diturunkan dari Tuhan Semesta alam
107. Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud,
58. Mereka itu adalah orang-orang yang Telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang Telah kami beri petunjuk dan Telah kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.
73. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir Berkata kepada orang-orang yang beriman: "Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)?"
72. Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat kami di hadapan mereka. Katakanlah: "Apakah akan Aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?" Allah Telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.
73. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.
92. Dan supaya Aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk Maka Sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat Maka Katakanlah: "Sesungguhnya Aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan".
45. Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
7. Dan apabila dibacakan kepadanya[1179] ayat-ayat kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat di kedua telinganya; Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.
[1179] yang dimaksud dengan kepadanya ialah kepada orang yang mempergunakan perkataan-perkataan yang tidak berfaedah untuk menyesatkan manusia.
29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
3. Dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran,
73. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.
21.Dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud,
Bacalah dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pemurah
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
3.Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
Bila memang benar di hari ke-3 kita berpuasa ini kerinduan untuk membaca Al Quran siang dan malam sudah mulai tumbuh di hati kita, ucapkanlah syukur kepada Penciptamu Yang Maha Penyayang , karena Dia-lah yang telah meletakkan rasa itu di hati kita. Dan itu adalah sebuah anugerah yang indah.
***
Khadimul Quran
(Pelayan-pelayan Al Quran)
Adalah nama sebuah lembaga yang dicetuskan oleh Ust. Hamim Thohari, B.IRK (Hons), untuk berkhidmat pada Al Quran, ikut menjaganya, membantu orang-orang agar bisa berinteraksi dengannya, dan menyerukan kembali dakwah Al Quran.
Quranic Enlightenment
(Pencerahan Qurani)
Adalah nama program yang digulirkan oleh Khadimul Quran, untuk menjalankan misi yang sama. Membantu orang untuk membaca Al Quran, Tahsin (program memperbaiki bacaan Al Quran), Tahfidz (program penghafalan Al Quran), Tafsir (program cara memahami Al Quran).
Anda bisa ikut berpartisipasi dalam program ini dengan mendonasikan apa yang anda mampu berikan. Anda bisa mengirimkan kepada kami buku-buku IQRA’, QIRAATI, AL BARQI, dan buku-buku yang lain, Al Quran, CD/ DVD murattal, untuk program-program Al Quran kami dan untuk kami sampaikan kepada orang atau lembaga yang berada dalam jangkauan kami, seperti keinginan anda. Kunjungi Facebook kami Khadimul Quran. Bergabunglah bersama grup kami Quranic Enlightenment.
Oleh : Nur A
SEBENARNYA UNTUK APA KITA HIDUP?
Untuk tujuan apa sebenarnya kita, alam, manusia dan perbedaan-perbedaannya, diciptakan berdamping-dampingan dengan kita?
Mustahil kita diciptakan hanya agar kita bertambah umurnya setiap hari, sekolah, bekerja, berkeluarga, memiliki anak-cucu, lalu setelah itu selesai….
Pasti ada sebuah “tujuan” mengapa semua ini ada.
Tuhan yang menciptakan alam raya dan segala apa yang ada ini menjelaskan semuanya kepada kita:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka ber-IBADAH (menyembah-Ku).
[Angin yang menerbangkan (Adz Dzariyat): 56]
Bila ini adalah titik awalnya, bahwa Ia adalah Tuhan Pencipta Semesta yang telah menciptakan kita sehingga kita harus beribadah kepada-Nya, lalu untuk tujuan apa Tuhan menciptakan orang tua kita, karib kerabat kita, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga-tetangga, teman sejawat, orang yang dalam perjalanan, begitu juga hamba-hamba sahaya?
Tuhan yang menciptakan alam raya dan segala apa yang ada ini telah menjelaskan semuanya kepada kita:
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan BERBUAT BAIKLAH kepada kedua ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnus sabil, dan hamba-hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah TIDAK MENYUKAI orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. [Wanita (An Nisaa’): 36]
Inilah yang diturunkan-Nya kepada kita, agar kita kepada mereka-mereka ini tetap bisa memperlakukannya dengan baik.
Kemudian terhadap segala yang ada di semesta raya ini, Tuhan yang menciptakannya, mengingatkan kita peristiwa di awal penciptaan:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.” Mereka berkata,”Mengapa Engkau hendak menjadikan seorang Khalifah di bumi itu orang yang AKAN MEMBUAT KERUSAKAN padanya dan MENUMPAHKAN DARAH, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Sapi Betina (Al Baqarah): 30]
Alam raya yang mungkin diciptakan sebelum kita, pepohonan, lautan yang luas, pegunungan yang biru, hutan-hutan yang hijau, lembah-lembah yang berkabut, sungai-sungai jernih yang mengalir bergemericik, ternyata tidak diperbolehkan oleh Tuhan Pencipta Semesta untuk kita rusak. Sedangkan nyawa-nyawa manusia, tidak diperbolehkan untuk kita tumpahkan darahnya dengan semena-mena.
Untuk tujuan inilah kita diciptakan.
Dan kita diciptakan tidak sendirian.
Berdampingan dengan kita ada alam raya dan sesama manusia yang diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.
Lalu siapakah sebenarnya Tuhan Pencipta Semesta itu?
SEGALA PUJI BAGI ALLAH, RABB (TUHAN) SEMESTA ALAM.
[Pembukaan (Al Fatihah): 2]
Dia telah mengenalkan Dirinya kepada kita. Dan Dialah Allah. Dengan Nama itu kita menyebut-Nya. Sebutlah:
Allah…Allah..Allah adalah Rabb-ku….tidak akan aku menyekutukan-Nya dengan apapun dan dengan siapapun…
[Allah…Allah…Allahu Rabbii….laa usyriku bihi syaian….]
oleh: Nur A
Selasa, 18 Agustus 2009
Kemuliaan Sahabat Nabi
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itulah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198)
Pengertian Sahabat
Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam keadaan muslim, meninggal dalam keadaan Islam, meskipun sebelum mati dia pernah murtad seperti Al Asy’ats bin Qais. Sedangkan yang dimaksud dengan berjumpa dalam pengertian ini lebih luas daripada duduk di hadapannya, berjalan bersama, terjadi pertemuan walau tanpa bicara, dan termasuk dalam pengertian ini pula apabila salah satunya (Nabi atau orang tersebut) pernah melihat yang lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu’anhu yang buta matanya tetap disebut sahabat (lihat Taisir Mushthalah Hadits, hal. 198, An Nukat, hal. 149-151)
Sikap Ahlus Sunnah terhadap para Sahabat
Syaikh Abu Musa Abdurrazzaq Al Jaza’iri hafizhahullah berkata, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah As Salafiyun senantiasa mencintai mereka (para sahabat) dan banyak menyebutkan berbagai kebaikan mereka. Mereka juga mendo’akan rahmat kepada para sahabat, memintakan ampunan untuk mereka demi melaksanakan firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka mengatakan ; Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan. Dan janganlah Kau jadikan ada rasa dengki di dalam hati kami kepada orang-orang yang beriman, sesungguhnya Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr : 10) Dan termasuk salah satu prinsip yang diyakini oleh Ahlus Sunnah As Salafiyun adalah menahan diri untuk tidak menyebut-nyebutkan kejelekan mereka serta bersikap diam (tidak mencela mereka, red) dalam menanggapi perselisihan yang terjadi di antara mereka. Karena mereka itu adalah pilar penopang agama, panglima Islam, pembantu-pembantu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, penolong beliau, pendamping beliau serta pengikut setia beliau. Perbedaan yang terjadi di antara mereka adalah perbedaan dalam hal ijtihad. Mereka adalah para mujtahid yang apabila benar mendapatkan pahala dan apabila salah pun tetap mendapatkan pahala. “Itulah umat yang telah berlalu. Bagi mereka balasan atas apa yang telah mereka perbuat. Dan bagi kalian apa yang kalian perbuat. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 141). Barangsiapa yang mendiskreditkan para sahabat maka sesungguhnya dia telah menentang dalil Al Kitab, As Sunnah, Ijma’ dan akal.” (Al Is’aad fii Syarhi Lum’atil I’tiqaad, hal. 77)
Dalil-dalil Al Kitab tentang keutamaan para Sahabat
* Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Muhammad adalah utusan Allah beserta orang-orang yang bersamanya adalah bersikap keras kepada orang-orang kafir dan saling menyayangi sesama mereka. Engkau lihat mereka itu ruku’ dan sujud senantiasa mengharapkan karunia dari Allah dan keridhaan-Nya.” (QS. Al Fath)
* Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan.” (QS. Al Hasyr : 8-9)
* Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath : 18)
* Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang terlebih dulu (berjasa kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha mepada Allah. dan Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. At Taubah : 100)
* Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari dimana Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. At Tahrim : 8) (lihat Al Is’aad, hal. 77-78)
Dalil-dalil dari As Sunnah tentang keutamaan para Sahabat
* Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela seorang pun di antara para sahabatku. Karena sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya.” (Muttafaq ‘alaih)
* Beliau juga bersabda, “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)
* Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang itu adalah amanat bagi langit. Apabila bintang-bintang itu telah musnah maka tibalah kiamat yang dijanjikan akan menimpa langit. Sedangkan aku adalah amanat bagi para sahabatku. Apabila aku telah pergi maka tibalah apa yang dijanjikan Allah akan terjadi kepada para sahabatku. Sedangkan para sahabatku adalah amanat bagi umatku. Sehingga apabila para sahabatku telah pergi maka akan datanglah sesuatu (perselisihan dan perpecahan, red) yang sudah dijanjikan Allah akan terjadi kepada umatku ini.” (HR. Muslim)
* Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencela para sahabatku maka dia berhak mendapatkan laknat dari Allah, laknat para malaikat dan laknat dari seluruh umat manusia.” (Ash Shahihah : 234)
* Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Apabila disebutkan tentang para sahabatku maka diamlah.” (Ash Shahihah : 24) (lihat Al Is’aad, hal. 78)
Dalil Ijma’ tentang keutamaan para Sahabat
* Imam Ibnush Shalah rahimahullah berkata di dalam kitab Mukaddimah-nya, “Sesungguhnya umat ini telah sepakat untuk menilai adil (terpercaya dan taat) kepada seluruh para sahabat, begitu pula terhadap orang-orang yang terlibat dalam fitnah yang ada di antara mereka. hal ini sudah ditetapkan berdasarkan konsensus/kesepakatan para ulama yang pendapat-pendapat mereka diakui dalam hal ijma’.”
* Imam Nawawi rahimahullah berkata di dalam kitab Taqribnya, “Semua sahabat adalah orang yang adil, baik yang terlibat dalam kancah fitnah maupun tidak, ini berdasarkan kesepakatan para ulama yang dapat diperhitungkan.”
* Al Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam kitab Al Ishabah, “Ahlus Sunnah sudah sepakat untuk menyatakan bahwa semua sahabat adalah adil. Tidak ada orang yang menyelisihi dalam hal itu melainkan orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahli bid’ah.”
* Imam Al Qurthubi mengatakan di dalam kitab Tafsirnya, “Semua sahabat adalah adil, mereka adalah para wali Allah ta’ala serta orang-orang suci pilihan-Nya, orang terbaik yang diistimewakan oleh-Nya di antara seluruh manusia ciptaan-Nya sesudah tingkatan para Nabi dan Rasul-Nya. Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan dipegang teguh oleh Al Jama’ah dari kalangan para imam pemimpin umat ini. Memang ada segolongan kecil orang yang tidak layak untuk diperhatikan yang menganggap bahwa posisi para sahabat sama saja dengan posisi orang-orang selain mereka.” (lihat Al Is’aad, hal. 78)
oleh: Abu Muslih
Senin, 17 Agustus 2009
Kapan Jatuhnya Awal Ramadhan 1430 H?
Perhitungan dengan menggunakan perangkat lunak Accurate Times 5.1 yang dibuat oleh Muhammad Odeh menunjukkan bahwa konjungsi Bulan dan Matahari untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya terjadi pada tanggal 20 Agustus 2009 pukul 17:02 WIB. Kondisi ini mengakibatkan Bulan tidak mungkin terlihat pada saat Matahari terbenam tanggal 20 Agustus karena Bulan sudah berada di bawah ufuk. Untuk tanggal 21 Agustus 2009, Matahari tenggelam pada pukul 17:54 WIB, sedangkan Bulan tenggelam pada pukul 18:44 WIB. Artinya, pada saat Matahari tenggelam tanggal 21 Agustus, Bulan masih berada di atas ufuk dan telah berumur 24 jam 52 menit atau lebih dari satu hari. Keadaan ini menyebabkan Bulan sangat mungkin dapat terlihat jelas dengan menggunakan mata telanjang.
Perbandingan visibilitas Bulan antara tanggal 20 dan 21 Agustus 2009 dapat dilihat pada gambar berikut:
Visibilitas hilal tanggal 20 Agustus 2009
Visibilitas hilal tanggal 20 Agustus 2009
Visibilitas hilal tanggal 21 Agustus 2009
Visibilitas hilal tanggal 21 Agustus 2009
Keterangan gambar:
Merah: Bulan tidak mungkin terlihat
Biru: Bulan mungkin dapat dilihat dengan alat bantu optik
Merah muda: Bulan dapat dilihat dengan mata telanjang
Hijau: Bulan dapat dilihat dengan mudah dengan mata telanjang
Penentuan awal bulan berdasarkan kriteria yang berbeda seringkali menunjukkan hasil yang berbeda pula. Untuk perhitungan dengan menggunakan Accurate Times di atas, kriteria yang digunakan adalah limit Danjon dimana Bulan hanya akan mampu dilihat jika sudah berada pada ketinggian minimal 6 derajat. Kriteria ini terpenuhi pada saat Matahari terbenam tanggal 21 Agustus di mana posisi Bulan berada pada ketinggian sekitar 12 derajat. Adapun untuk kriteria wujudul hilal yang menggunakan patokan bahwa Bulan berada di atas ufuk saat Matahari tenggelam setelah terjadi konjungsi jelas telah terpenuhi pada tanggal 21 Agustus.
Jika menggunakan kriteria yang telah disepakati oleh Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) dalam penetapan awal bulan:
- Ketika terbenamnya matahari, ketinggian Bulan di atas horizon tidak kurang dari 2 derajat: tanggal 21 Agustus telah memenuhinya karena ketinggian Bulan pada saat itu telah mencapai 12 derajat.
- Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3 derajat: tanggal 21 Agustus telah memenuhinya karena elongasinya saat itu telah mencapai 14 derajat.
- Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam setelah konjungsi: tanggal 21 Agustus telah memenuhinya dikarenakan umur Bulan untuk keadaan itu telah mencapai lebih dari 24 jam.
Seluruh kriteria itu tidak terpenuhi untuk tanggal 20 Agustus karena saat Matahari tenggelam, ketinggian Bulan masih di bawah ufuk (-55 menit), elongasinya hanya 2 derajat, dan umur Bulan baru 52 menit. Seluruh kriteria tersebut menunjukkan dan menguatkan jatuhnya awal bulan Ramadhan pada tanggal 22 Agustus 2009.
Untuk referensi lain dapat dilihat pada situs Rukyatul Hilal Indonesia. Jadwal imsakiyah untuk berbagai wilayah di Indonesia juga dapat diunduh dari situs tersebut.
Selamat menunaikan puasa dan amal ibadah lainnya di bulan Ramadhan. Semoga Ramadhan kali ini lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Amiiin…
Minggu, 16 Agustus 2009
Al Quraan Leads You to Pardon
Dan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar (menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh, memberikan kesaksian palsu, dan mencuri) dan dan perbuatan-perbuatan keji (melakukan hubungan seksual secara ilegal), dan apabila mereka marah mereka MEMBERI MAAF. [Ash Shuura (The Consultation): 37]
And verily, whosoever shows patience and forgives, that would trully be from the things recommended by Allah.
Dan sungguh, siapapun yang menunjukkan kesabaran dan MEMAAFKAN sesungguhnya perbuatan yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.[Ash Shuura (The Consultation): 43]
Kind words and forgiving of faults are better than Sadaqah (charity) followed by injury. And Allahis Rich (Free of all needs) and He is Most Forbearing.
Perkataan yang baik dan PEMBERIAN MAAF lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. [Al Baqarah (The Cow): 263]
Those who spend (in Allah's Cause) in prosperity and in adversity, who repress anger, and who pardon men; verily, Allah loves Al Muhsinuun (the good doers, those who perform good deeds totally for Allah's sake only without any show-off or to gain praise or fame, and they do them in accordance with the Sunnah (legal ways) of Allah's Messenger, Muhammad Shallallau 'alaihi wasallam).
Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang atau pun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan MEMAAFKAN (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali 'Imraan (The Family of Imraan): 134]
Whether you (mankind) disclose (by good words of thanks) a good deed (done to you in the form of a favour by someone), or conceal it, or pardon an evil, verily, Allah is Oft-Pardoning, All-Powerful.
Jika kamu menyatakan suatu kebaikan atau menyembunyikannya atau MEMAAFKAN sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa. [An Nisaa' (The Women): 149]
O you who believe! Verily, among your wives and your children there are enemies for you (who may stop you from the obedience of Allah); therefore beware of them! But if you pardon (them) and overlook, and forgive( their faults), then verily, Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful.
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu MEMAAFKAN dan tidak memarahi serta mengampuni mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [At Taghabun (Mutual Loss and Gain):14]
Oleh :Khoodimul Qur'an
Reposisi Sains MUSLIM
Reposisi Sains Seorang Muslim
Bagi insan akademisi, sains tidaklah hal asing. Bahkan, seorang biasa yang belum mengenyam rasanya ‘bangku’ pendidikan pun sebenarnya sudah mengenal contoh peristiwa sains. Sejak kecil, kita dikenalkan dengan ilmu pengetahuan meski sekedar perumpamaan sederhana. Misalnya, suatu saat kita melihat ada benda bulat besar berwarna kuning terang di angkasa. Lalu, ibu yang sabar dengan cekat berkata “itu namanya matahari, nak”.
Sains berperan penting dalam menghasilkan berbagai teknologi dan produknya yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Melalui ilmu pengetahuan, kita mampu berkomunikasi dengan saudara di tanah seberang sana. Pun, melalui sains kita bisa mengindera, menemukan jawab fenomena yang terjadi alam raya. Namun, apakah benar fungsi sains sebatas itu?
Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya melihat kembali definisi sains. Secara sederhana, sains atau ilmu pengetahuan adalah hasil penafsiran manusia, melalui serangkaian kegiatan ilmiah, tentang alam semesta serta berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. Alam semesta yang dimaksud di sini adalah semua ciptaan Allah termasuk manusia itu sendiri.
Jadi, sejatinya sains bukan sekedar pengetahuan serta perangkat canggih sebagai hasilnya yang berguna bagi kebutuhan hidup manusia dalam rangka memakmurkan bumi dan menjadi khalifah Allah di bumi. Namun, ia juga berperan sebagai ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang mengenalkan manusia kepada Pencipta alam semesta, beserta sifat-sifat- Nya sebagaimana firman Allah:
“Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu . Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal” (QS. Thaahaa, 20:53-54)
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Yuunus, 10:5).
Dalam tinjauan sejarah, kisah Nabi Ibrahim mengenal Tuhan yang sesungguhnya adalah contoh nyata fungsi ayat pada alam semesta. Dalam Alqur'an surat Al-An’aam, Allah mengisahkan bagaimana konsepsi Ibrahim tentang fenomena alam yang sangat sederhana mampu menghantarkannya kepada pengenalan Allah:
“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan kau bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’aam, 6:74-79).
Di samping Nabi Ibrahim, Nabi lain yang disebut sebagai uswah hasanah dalam Alqur'an, yakni Rasulullah Muhammad SAW mengenal Allah melalui tafakkur alam. Sebelum turun wahyu Allah yang pertama di Gua Hira, Nabi Muhammad gemar mengasingkan diri ke gua Hira di Jabal Nur. Selain beribadah, beliau juga menghabiskan waktunya dengan memikirkan (bertafakkur) keagungan alam di sekitarnya dan adanya kekuatan tak terhingga di balik alam semesta.
Tidaklah mengherankan jika pada akhirnya perintah eksplorasi fenomena alam ini menjadi salah satu bentuk dakwah para Nabi dalam mengenalkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam. Misalnya, Nabi Nuh AS menyeru kaumnya agar beriman kepada Allah dengan mengingatkan mereka akan beragam keajaiban fenomena alam semesta:
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.” (QS. Nuh, 71:13-20).
Nabi Ibrahim a.s. pun berdakwah kepada Namrudz dengan menggunakan pemaparan tentang fenomena alam, dan mampu membungkam sang raja dengan kekuasaan Allah di alam:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu heran terdiamlah orang itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Baqarah, 2:258).
Kepada Nabi Muhammad saw, Allah menurunkan wahyu Alqur'an yang berisi seruan untuk meneliti dan mempelajari fenomena alam agar manusia menjadi hamba yang semakin mengenal Rabbnya dan bertaqwa:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (bertafakkur) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan, 3:190-191).
Sedikit gubahan dari Materi ‘Sains Ideal dalam Perspektif Islam’ karya Catur Sriherwanto (Direktur Harun Yahya Indonesia). http://hidayatullah .com/berita/ tafakur.html
Oleh: Syaefudin
REMEMBRANCE OF ALLAH (berdzikir kepada Allah)
Allah has said:
Therefore remember Me, I will remember you and be grateful to Me, and reject not faith.
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.
[Al Baqarah:152]
O you who believe! Remember Allah with much remembrance.
Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.
[Al Ahzab:41]
...and for men and women who engage much in Allah's remembrance, for them, has Allah prepared forgiveness and great reward.
laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut Nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
[Al Ahzab:35]
And bring your Lord to remembrance in your (very) soul,with humility and remember without loudness in words, in the morning and evenings, and be not of those who are unheedful.
Dan sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
[Al A'raaf:205]
Oleh: Nur A.H
Sabtu, 15 Agustus 2009
Sesungguhnya Pertolongan Allah Itu Dekat
Seringkali kita tak menyadari, betapapun beratnya ujian hidup ini pasti selalu ada jalan keluarnya. Saat segala sesuatunya terasa tak mungkin, yakinlah bahwa ada Zat yang sanggup mengubah segala yang tampaknya mustahil itu menjadi kenyataan. Kala kesulitan hidup datang mendera, yakinlah bahwa Allah telah menyediakan jalan keluarnya jika kita benar-benar mau berusaha dan bertawakkal penuh kepada-Nya.
Kisah 1
Siang itu sungguh terik, tapi teriknya matahari tak menyurutkan semangat kaum kafir untuk menghentikan tegaknya dakwah. Mereka dengan teliti menyusuri setiap jejak, mempehatikan semua tanda, dan memeriksa segala kemungkinan demi mencari keberadaan Rasulullah SAW. Mereka yakin, Rasulullah SAW dan Abu Bakar yang belum lama meninggalkan Mekkah pasti tidak berada jauh dari situ. Tak akan mereka biarkan Rasulullah SAW pergi dan menemukan jalan untuk menyiarkan Islam kepada kaum yang lain.
Sampailah mereka ke mulut sebuah goa yang sangat mereka yakini bahwa Rasulullah SAW dan Abu Bakar berada di dalamnya. Pencarian dikonsentrasikan ke arah sana. Semua mata tertuju pada goa tersebut dan masing-masing orang bersiaga untuk segera menangkap orang yang mereka cari. Hidup atau mati, mereka harus menemukannya.
Goa itu kecil. Bukan perkara yang sulit menemukan dua orang yang bersembunyi di dalamnya. Jika bukan karena Allah yang menjaga para penghuninya, mungkin menemukan kalajengking atau serangga kecil lainnya juga dapat dilakukan dengan mudah. Tapi, pada saat itu di dalamnya terdapat makhluk Allah yang sangat Allah sayangi. Dua orang hamba terbaik yang hidup di kolong langit. Tak henti-hentinya mereka berzikir, berdo’ a, dan saling menguatkan. “Laa tahzan, innaLlaha ma’ana”, jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.
Mereka telah berusaha sedapat mungkin menyembunyikan kaki mereka agar tak terlihat dari luar goa. Sebelum itu, mereka bahkan telah mengatur strategi agar jejak kaki mereka bahkan tak dapat terendus oleh orang-orang. Tapi kini para pengejar telah berada dekat sekali dengan mulut goa. Tak ada lagi yang dapat diharapkan kecuali pertolongan Allah. Mereka telah menyempurnakan ikhtiar, dan kini saatnya bertawakkal pasrah kepada-Nya.
Saat para pengejar itu telah dekat ke mulut goa, tiba-tiba saja suara mereka semakin menjauh. Pertanda bahwa mereka beranjak pergi. Tak ada seorangpun yang masuk ke dalam goa. Para pengejar lebih yakin pada pengalaman dan ilmu mereka membaca alam. Entah dari mana, sarang laba-laba besar telah terangkai di mulut goa. Dan seekor burung berdiam di sekitar mulut goa tanpa beranjak pergi atau merusak sarang laba-laba. Dua tanda binatang itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa tak ada seorangpun di dalam goa. Selamatlah Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Pertolongan Allah datang tepat di akhir kondisi kritis.
Kisah 2
Gerombolan orang itu tampak berusaha berjalan secepat mungkin. Tapi apa daya, persiapan seadanya dan kondisi fisik yang lelah tak memungkinkan mereka untuk bergerak cepat. Belum lagi orang tua, para wanita, dan anak-anak membuat perjalanan tak dapat lagi dipercepat. Sementara di belakang mereka terdengar gemuruh pasukan berkuda, benhur, dan pasukan berlarian mengejar gerombolan orang-orang tak berdaya itu. Suara mereka semakin keras terdengar. Tak sampai hitungan jam, mereka pasti akan dapat terkejar.
Di hadapan gerombolan itu hanya ada lautan luas membentang. Tak ada lagi jalan lain. Nabi musa AS yang dari tadi memimpin gerombolan orang dengan susah payah mulai mendapat pertanyaan dan cacian. “Wahai Musa, sesungguhya engkau hanya membawa kami kepada jurang kematian”, begitu kata sebagian mereka. Saat itu tak ada lagi jalan untuk lari atau menghadapi serangan pasukan Fir’aun yang mengejar dari belakang. Mustahil.
Dan saat kondisi kacau balau dan kegalauan terjadi pada setiap orang, Nabi Musa terus berzikir. Ia berdoa pada Allah agar diberikan jalan keluar. Pasrah ia kepada-Nya. Seluruh ikhtiar telah disempurnakan. Tak ada lagi yang dapat menolong selain Allah. Saat kondisi kritis telah terjadi dan kepasrahan hanya diserahkan kepada Allah, maka Allah benar-benar membukakan jalan keluar bagi Bani Israil. Terjadilah apa yang mustahil terjadi selama ini. Terbelahlah lautan sehingga tampaklah jalan yang sebelumnya tak dapat terlihat. Berjalanlah mereka menyeberangi lautan yang luas itu dan selamatlah Bani Israil dari kejaran Fir’aun dan pasukannya.
Kisah 3
Anak kecil itu telah terbaring pasrah. Ikhlas ia mejalani ini semua karena Allah. Dan sang Ayah pun telah siap untuk melaksanakan tugasnya. Digenggamnya erat-erat sebilah pisau untuk menyembelih anaknya sendiri. Anak laki-laki kesayangannya yang telah dinantikan kelahirannya selama bertahun-tahun.
Ditampiknya semua godaan syaithan. Ia percaya penuh kepada Allah. Ia yakin bahwa Allah pasti selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Ia ingin menjalankan perintah Allah seberat apapun perintah tersebut. Bismillah... Ia membulatkan tekad. Lisannya tak henti-hentinya berzikir. Diayunkanlah lengannya untuk mulai menyembelih. Dan saat ujung pisau nyaris menyentuh leher sang anak, keajaiban terjadi. Sang anak berubah menjadi seekor ghibas.
Ibrahim AS menjalankan perintah Allah yang sangat berat. Ia berjuang melawan dirinya sendiri, melawan bujuk rayu syaithan, demi mematuhi perintah Allah. Dan saat semua ikhtiar telah disempurnakan, maka kepasrahan total hanya diserahkan kepada Allah. Lalu Allah mendatangkan pertolongannya, tepat di saat detik-detik terakhir.
Kisah 4
Gelap, pekat, dan mual ia rasakan. Tidak jelas apa yang terjadi saat itu. Mungkin segala jenis sakit fisik dan tekanan batin terjadi bersamaan di satu waktu. Tapi ia terus berzikir, bertaubat kepada Allah atas segala kesalahan yang ia perbuat. “Asyhadu alla ilaaha illa anta, subhanaka, inni kuntu minaz zholimin”, aku bersaksi bahwasannya tidak ada Ilah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku telah menjadi bagian dari orang-orang berlaku zholim atas dirinya sendiri. Pasrah ia kepada Allah. Tak ada lagi yang dapat ia lakukan sebagai manusia. Perut ikan paus itu terlalu besar dan ia terlalu lemah untuk berada di dalamnya. Namun kekuatan zikir itu begitu dahsyat. Kalimat taubat yang diucapkan dengan penuh penyesalan itu sungguh mampu mengeluarkan manusia dari permasalahan apapun.
Dan terjadilah apa yang mustahil menurut ukuran manusia. Sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Nabi Yunus AS keluar dari dalam perut ikan paus. Entah bagaimana caranya, ia tiba-tiba dapat keluar dari dalam sana. Dan bukan hanya itu, ia dapat selamat dari kejamnya gelombang lautan yang sangat hebat pada saat itu hingga akhirnya terdampar di daratan. Ia selamat dari keadaan yang sungguh menakutkan, tepat di saat terakhir dari semua kesulitan yang dihadapinya. Saat tak ada seorangpun yag mampu menyelamatkannya sama sekali kecuali Allah.
Hikmah
Rasanya bukan hal yang sulit untuk mengambil hikmah atau ibroh dari kisah-kisah para Nabi tersebut. Satu hal yang seharusnya dapat kita petik ialah keniscayaan bahwa Allah pasti menolong hamba-hambanya yang beriman. Tentu saja semua itu tidak dengan cuma-cuma. Pertolongan Allah itu selalu datang saat semua ikhtiar kita sebagai manusia telah dimaksimalkan. Saat tak ada lagi ikhtiar yang sanggup kita lakukan. Saat tak ada lagi seorangpun yang mampu menolong kita. Saat kepasrahan itu kita serahkan sepenuhya hanya kepada Allah. Saat kita telah menampik semua godaan syaithan. Saat kita telah bertaubat dan menyesali semua kesalahan kita dengan penuh penyesalan. Saat kalimat zikir tak henti-hentinya terucap dari lisan kita. Maka saat itulah pertolongan Allah akan datang.
“ ... alaa inna nashruLlahi qoriib”, ketahuilah.. sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Terkadang mungkin kita tak menyadari betapa dekatnya pertolongan Allah. Alih-alih kita mendekat kepada Allah, kita mungkin justru lebih sering menjauh dari-Nya saat permasalahan menimpa kita. Akibatnya, pertolongan Allah tak kunjung dekat kepada kita. Padahal, kisah para Rasul telah mengajarkan kepada kita bahwa pertolongan Allah itu justru datang saat di mana seseorang berada pada titik terdekatnya dengan Allah. Maka bersabarlah wahai saudaraku, tetaplah bersyukur atas apa yang Allah telah berikan. Berusahalah dengan kemampuan terbaik untuk menjadi hamba-Nya yang sholeh. Banyak-banyaklah berzikir di manapun kau berada. Jangan pernah berputus asa dari pertolongan Allah. Sungguh saudaraku, pertolongan Allah itu pasti datang, insya Allah.
Wallahu a’lam bis showab...
IBEMPI
Kamis, 13 Agustus 2009
penelitian stroberi akhirnya selesaiiiii
kisah inspirati (Rumaisha Khairatun Hisan)
Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9.30 seorang pria berusia 70-an datang utk membuka jahitan pada luka di ibu jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi. Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru.
Pekerjaan yg tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter aku memutuskan untuk melakukannya sendiri. Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru.
Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari.
Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer. Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakir. Aku sangat terkejut dan berkata, " Dan bapak masih kesana setiap hari walaupun istri bapak sudah tidak kenal lagi ?"
Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tangan ku sambil berkata, " Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia kan ?"
Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tangan ku masih tetap merinding, " Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku. " Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis.
Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.
Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.
Selasa, 11 Agustus 2009
tips studi ke jepang gratis ala ALI KHUMAENI (penerima monbukagakusho)
Akhir-akhir ini banyak students dan juga alumni yang tertarik untuk melanjutkan studi ke Negeri Sakura. Berbagai alasan yang melatarbelakangi keinginan tersebut diantaranya: Jepang merupakan negara yang sudah maju dari sisi sains dan teknologi, Jepang memberikan jaminan studi dengan scholarshipnya (monbukagakusho scholarship dll), Perguruan tinggi di jepang mempunyai banyak bidang keilmuan dan mayoritas high quality dibandingkan dengan kampus di luar jepang, Kultur Jepang yang hampir sama dengan Indonesia karena adat timurnya, dan lain-lain.
Namun terkadang keinginan tersebut memudar dikarenakan ketidaktahuan informasi jalan menuju ke Jepang. Sebagaimana dulu penulis juga sempat pesimis dikarenakan susahnya menembus beasiswa. Berikut ini beberapa tips yang menjadi pengalaman penulis dan juga sebagian teman-teman yang berhasil mendapatkan berbagai macam beasiswa melanjutkan studi postgraduate ke Jepang.
Tingkatkatkan IPK dan TOEFL
Ya, IPK (Indeks prestasi Komulatif) dan Test of English as Foreign Language (TOEFL) adalah syarat awal yang paling urgen untuk mendapatkan beasiswa studi ke Jepang. Diusahakan agar IPK minimal 3.51 dan TOEFL score minimal 550. Walaupun terkadang syarat minimal tersebut juga harus berkompetisi dengan alumni universitas bergengsi di Indonesia. Ada kasus-kasus khusus yang syarat tersebut bisa tembus walaupun di bawah standar di atas. Misalnya dikarenakan adanya kedekatan personal dengan sensei (calon professor pembimbing) atau karena berasal dari kampus yang sudah mengadakan kerja sama dengan universitas Jepang. Namun, akhir-akhir ini universitas di Jepang tetap mensyaratkan IPK dan TOEFL sebagai standar mutlak untuk studi ke Jepang. Oleh karena itu, mulai meningkatkan IPK dan TOEFL adalah jalan awal untuk mendapatkan beasiswa.
Menfokuskan bidang penelitian untuk proposal riset
Banyak students yang menginginkan untuk studi lanjut. Namun ketika ditanya mengenai bidang risetnya, mereka belum bisa memberikan jawaban secara spesifik tentang topik risetnya. Misalnya, ketika ditanya tentang bidang risetnya, mereka menjawab Fisika spektroskopi. Padahal di dalam spektroskopi sendiri banyak cabang keilmuanya, diantaranya spektroskopi molekuler dan spektroskopi atomik. Di dalamnya masih ada cabang lagi diantaranya, X-ray spektroskopi, Raman spectroscopy, Plasma spektroskopi, Laser spektroskopi, absorption spectroscopy, emission spectroscopy dll. Oleh karena itu, sedetail mungkin menfokuskan bidang keilmuan adalah bagian penting dari persiapan studi lanjut.
Adanya korelasi antara bidang keilmuan di S1 dengan proposal riset untuk S2.
Korelasi keilmuan ini adalah sangat penting untuk bisa mendapatkan grant studi lanjut ke Jepang. Akan mengalami kesulitan kalau bidang keilmuan tidak sealur. Misalnya bidang Biologi seharusnya mencoba mencari bidang keilmuan lanjutan ke biologi sains, biologi molecular, atau biologi biochemistry. Kalau memaksakan diri ke bidang electrical engineering atau civil engineering, probabilitas untuk mendapatkan beasiswa akan sangat kecil. Namun perlu penulis sampaikan bahwa ada beberapa keilmuan yang mempunyai alur sama walaupun beda program studi. Misalnya, bidang Fisika Atom bisa mengajukan proposal riset untuk S2 ke bidang Teknik Nuklir, Ilmu spektroskopi, Nuklir kedokteran, dll. Oleh karena itu, mulai di kaji korelasi bidang keilmuan kita sekarang dengan bidang yang akan ditekuni selama posgraduate di Jepang.
Membangun komunikasi dengan institusi terkait dengan bidang keilmuan kita.
Kita sudah mengetahui bahwa mayoritas untuk fresh graduate biasanya belum mempunya institusi setelah baru saja selesai studi S1. Oleh karena itu, selama di S1 diharapkan bisa menjalin komunikasi dengan institusi-institusi yang sesuai dengan bidang kita. Khusus untuk kampus-kampus yang belum menjalin kerjasama dengan univeritas di Jepang contohnya Fisika Undip dengan Universitas Fukui Jepang, maka sudah sepatutnya students mencoba aktif untuk menjalin komunikasi dengan institusi di luar kampus. Hal ini akan kita gunakan untuk memenuhi persyaratan untuk mengisi formulir registrasi bahwa pasca studi dari Jepang, kita akan kembali ke Indonesia dan membangun Indonesia melalui institusi tersebut. Walaupun hanya secara formal, institusi tersebut sangat kita butuhkan. Untuk kampus-kampus yang sudah membangun kerjasama, biasanya applicants menggunakan atas nama institusinya (seperti UI dan ITB) bahwa nantinya mereka akan kembali ke Indonesia untuk menjadi lecturers walaupun bukan PNS. Untuk applicants yang sudah mempunyai institusi, maka otomotasi persiapan di point ini gugur.
Mulai mencari ide riset untuk proposal postgraduate
Mencari ide riset yang sesuai dengan bidang keilmuan sedini mungkin. Pencarian ide riset bisa dilakukan dengan menanyakan topik riset dosen kita yang pernah studi ke jepang. Pencarian juga bisa dilakukan melalui internet (searching by google bagian scholars) dengan keywords topik riset kita. By searching, kita akan menemukan journal papers yang biasanya terdiri atas authors dan hasil riset. Kalau tidak bisa mendownload dikarenakan harus membayar, kita mencoba meminta bantuan senior yang sedang belajar di luar negeri untuk mendownload dikarenakan biasanya universitas internasional sudah langganan journal. Namun, sebisa mungkin cari yang gratisan dulu. Selain melalui internet, kita bisa mencari ide-ide riset dengan menghadiri seminar-seminar atau konferensi yang keynote speaker nya berasal dari Jepang.
Mencari professor pembimbing untuk postgraduate
Sebagaimana point no. 5, mencari professor bisa dilakukan dengan memohon dosen pembimbing kita yang pernah belajar ke Jepang untuk memberikan kontak person dengan professor di jepang. Cara ini adalah paling efektif karena professor biasanya sudah mengenal dosen pembimbing kita dengan baik. Sehingga kita diuntungkan melalui human relations dengan dosen pembimbing kita. Selain itu, pencarian bisa menghubungi professor yang ada di author journal yang telah kita temukan melalui internet. Kontak professor bisa dilakukan dengan email. Alternatif lain adalah bertemu langsung dengan professor saat acara seminar, konferensi, workshop, kunjungan kerja, pameran pendidikan, joint riset di Indonesia dll.
Membangun komunikasi dengan calon professor pembimbing
Membangun komunikasi dengan professor adalah sangat penting setelah kita mendapatkan professor melalui point 6. Membangun komunikasi bisa dilakukan dengan korespondesi melalui email dengan menanyakan hasil-hasil riset dari professor dan masalah-masalah yang ditemuai saat membaca hasil riset professor. Komunikasi ini sangat penting karena akan meyakinkan professor bahwa kita benar-benar serius untuk studi postgraduate di laboratoriumnya.
Pencarian beasiswa
Ini adalah point yang paling penting karena tanpa beasiswa kita cukup mengalami kepayahan selama studi di Jepang. Perlu diketahui bahwa untuk registrasi di universitas di Jepang kita membutuhkan biaya sekitar Rp 30 juta. Biaya per semester sekitar Rp 25 juta. Biaya hidup tinggal di Jepang sekitar Rp 8 juta/bulan. Oleh karena itu beasiswa sangat penting untuk kelancaran studi kita. Beberapa beasiswa yang bisa kita dapatkan di antaranya, beasiswa monbukagakusho (beasiswa resmi Departemen Pendidikan Jepang), beasiswa AYF (Asian Youth Fellowship), beasiswa Panasonic, beasiswa Dikti Indonesia (Pendidikan Tinggi Indonesia), beasiswa ADB-JSP (Asian development Bank-Japan Scholarship program), Joint Japan/World Bank Graduate Scholarship Program, Hitachi sholarship, beasiswa pemerintah propinsi jepang, beasiswa laboratorium di universitas di jepang, dll. Pencarian beasiswa bisa dilakukan di internet dengan memasukkan keywords beasiswa di atas ke google search. Khusus untuk beasiswa monbukagakusho ada 2 metode yaitu melalui kedutaan dan melalui universitas di universitas jepang. Untuk lebih detailnya silahkan dirujuk di postingan sebelumnya tentang beasiswa. Beasiswa pemerintah propinsi jepang dan beasiswa laboratorium bisa didapatkan melalui rekomendasi dari professor yang akan kita jadikan pembimbing. Oleh karena itu, silahkan untuk secara intens mengontak professor dengan meyakinkan sehingga professor benar-benar tertarik dengan kita.
Kerja part time (arubaito)
Alternatif untuk bisa studi di jepang adalah dengan kerja part time. Kerja part time bisa menghasilkan Rp 5-8 juta yen setiap bulan. Namun kerja part time ini cukup berat karena biasanya untuk mahasiswa S2 dan mahasiswa S3 harus benar-benar fokus di laboratorium dari pagi sampai malam. Tentu hal ini bisa didiskusikan dengan professor nantinya. Untuk bisa datang ke Jepang tanpa beasiswa, calon mahasiswa harus mempunyai tabungan minimal 50 juta untuk perjalanan, registrasi dan biaya hidup sementara. Karena tanpa tabungan, kita akan mengalami kesulitan dalam pembuatan visa studi ke jepang. Kecuali jika professornya sudah menjamin finansial bulanan kita untuk bisa studi di labnya, maka terkadang kita hanya menyediakan uang untuk perjalanan dan registrasi.
Berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh
Ikhtiar maksimal kita sebaiknya dibarengi dengan doa yang sungguh-sungguh kepada Allah. Karena semua keputusan ada di Allah. Kewajiban kita adalah berikhtiar, berdoa, dan tawakal. "Dan apabila hamba-hambaku menanyakan kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku memperkenankan permohonan ( Doa ) seseorang bila ia memohon kepada-Ku. Karena itu hendaklah ia mentaati segala perintahku dan beriman kepada-Ku semoga ia selalu dalam kebenaran".(Al-baqarah: 186)
Semoga tips ini bermanfaat untuk rekans, former students, undergraduate students, dan teman-teman yang membutuhkan. Terkadang saat ini kita membaca informasi dengan waktu yang bersamaan dengan teman-teman. Namun, kita kalah start dikarenakan tidak bisa merespon informasi dengan cepat. Semangat saja tidak cukup, karena harus dibarengi dengan action yang cerdas dan cepat. Kalau ada yang belum lengkap, rekans bisa menambahkan.



